Oleh Faidzunal A. Abdillah, Pemerhati sosial dan lingkungan – Warga LDII tinggal di Serpong, Tangerang Selatan.
Sulit memilih satu ayat dari Al-Qur’an sebagai “yang paling menyentuh dan menggetarkan.” Karena setiap ayat memiliki pintu resonansinya masing-masing untuk bergetar dan menggetarkan. Dan situasinya kadang bisa membawa jalan sentuhan tersendiri, menemunakn hati dan jiwa dengan frekuensi yang sama. Ada ayat yang mengguncang akal, ada yang meruntuhkan kesombongan, ada yang menyayat rasa bersalah, ada pula yang membuat jiwa merasa dipeluk oleh rahmat Allah.
Salah satu yang paling mengguncang akal misalnya, terdapat dalam Surah Ath-Thur ayat 35–36:
أَمْ خُلِقُوا مِنْ غَيْرِ شَيْءٍ أَمْ هُمُ الْخَالِقُونَ أَمْ خَلَقُوا۟ ٱلسَّمَٰوَٰتِ وَٱلْأَرْضَ ۚ بَل لَّا يُوقِنُونَ
“Apakah mereka tercipta tanpa sesuatu pun, ataukah mereka yang menciptakan diri mereka sendiri? Ataukah mereka yang menciptakan langit dan bumi?”
Ayat ini seperti palu godam logika yang menghancurkan kesombongan intelektual manusia. Pilihan akalnya hanya tiga: tercipta tanpa sebab, menciptakan diri sendiri, atau ada Pencipta. Dan dua kemungkinan pertama runtuh dengan sendirinya. Konon Jubair bin Muth’im — yang saat itu belum masuk Islam — mengatakan bahwa ketika mendengar ayat ini dibacakan Nabi ﷺ: “Hatiku hampir terbang.” Karena kadang satu ayat lebih kuat daripada seribu debat filsafat.
Dalam Surah Abasa ayat 17 -19: “Celakalah manusia! Alangkah kufurnya dia!” Lalu Allah melanjutkan: “Dari apakah Dia menciptakannya? Dari setetes mani Dia menciptakannya.”
قُتِلَ الْاِنْسَانُ مَآ اَكْفَرَهٗۗ مِنْ اَيِّ شَيْءٍ خَلَقَهٗۗ مِن نُّطْفَةٍ خَلَقَهُۥ فَقَدَّرَهُ
Betapa keras ayat ini. Manusia: berjalan dengan dada membusung, merasa paling pintar, paling kuat, paling penting, padahal asalnya hanya setetes air hina. Dan akhirnya? Tubuh yang dibanggakan akan kembali menjadi tanah. Ayat ini seperti menghancurkan “aku” palsu yang sering memenuhi dada manusia.
Tetapi jika ditanya salah satu yang sangat menggetarkan secara eksistensial, mungkin di antaranya adalah firman Allah dalam Surah Qaf ayat 16: “Dan Kami lebih dekat kepadanya daripada urat lehernya.”
وَنَحْنُ أَقْرَبُ إِلَيْهِ مِنْ حَبْلِ الْوَرِيدِ
Mengapa ayat ini begitu mengguncang? Karena manusia sering merasa: sendirian, ditinggalkan, tidak dipahami, tersembunyi, aman dalam rahasia-rahasianya. Tetapi ayat ini menghancurkan semua ilusi itu. Allah lebih dekat: dari kegelisahan yang belum sempat diucapkan, dari air mata yang tidak jadi jatuh, dari niat yang belum berubah menjadi tindakan, dari luka yang bahkan kita sendiri sulit menjelaskannya. Ayat ini menakutkan sekaligus menenangkan. Menakutkan, karena tidak ada kepalsuan yang benar-benar tersembunyi di hadapan Allah. Tetapi juga menenangkan, karena berarti tidak ada kesepian yang benar-benar sepi.
Ada pula ayat yang menurut banyak ulama sangat mengguncang hati orang beriman, yaitu dalam Surah Al-Hadid ayat 16: “Belum tibakah waktunya bagi orang-orang beriman untuk khusyuk hati mereka mengingat Allah?”
أَلَمْ يَأْنِ لِلَّذِينَ آمَنُوا أَنْ تَخْشَعَ قُلُوبُهُمْ لِذِكْرِ اللَّهِ
Diriwayatkan bahwa sebagian orang saleh menangis ketika mendengar ayat ini, seakan Allah sedang menegur langsung hati mereka: “Sampai kapan engkau menunda pulang?” Bukan kepada orang kafir ayat ini diarahkan. Tetapi kepada orang beriman. Seakan-akan seseorang bisa lama hidup bersama agama, tetapi hatinya belum benar-benar lembut kepada Allah.
Dan ada lagi ayat yang terasa seperti merangkum seluruh perjalanan manusia, dalam Surah Az-Zumar ayat 53:
“Janganlah kalian berputus asa dari rahmat Allah.”
لَا تَقْنَطُوا مِنْ رَحْمَةِ اللَّهِ
Ayat ini menggetarkan karena ia membuka pintu bahkan untuk manusia yang merasa dirinya paling rusak. Seakan Allah berkata: “Selama engkau masih mau kembali, Aku masih membuka pintu.”
Mungkin memang keajaiban Al-Qur’an adalah: ayat yang paling menggetarkan seseorang sering kali bukan ayat yang paling panjang atau paling rumit, tetapi ayat yang tepat menyentuh luka terdalam jiwanya pada saat tertentu. Kadang satu ayat terasa biasa saja hari ini. Lalu bertahun-tahun kemudian, saat hidup menghantam hati kita, ayat yang sama tiba-tiba terasa seperti berbicara langsung dari langit kepada diri kita sendiri. Laksana hujan yang menyejukkan. Semisal mata air yang mengalirkan air mata. Pertanyaannya; sudahkah kita mengalaminya?









