Jakarta (16/4). Pondok Pesantren (Ponpes) Wali Barokah menyambut positif pembekalan Musyawarah Nasional (Munas) X LDII yang menghadirkan Wakil Menteri Haji dan Umrah, Dahnil Anzar Simanjuntak pada Kamis (9/4). Kegiatan tersebut membahas berbagai isu strategis mulai dari pengelolaan haji hingga pentingnya budaya kebersihan sebagai karakter bangsa.
“Tantangan penyelenggaraan haji semakin kompleks, terutama akibat dinamika global seperti kenaikan biaya avtur dan kondisi geopolitik Timur Tengah. Meski demikian, pemerintah berkomitmen agar kenaikan biaya tidak membebani jamaah,” tegas Wakil Menteri Haji dan Umrah, Dahnil Anzar Simanjuntak.
Ia membuka secara transparan kondisi keuangan haji Indonesia yang saat ini mencapai Rp 180 triliun, namun dihadapkan pada tantangan antrean yang mencapai puluhan tahun. Ia melemparkan wacana diskusi terkait berbagai strategi memotong masa tunggu, mulai dari lobi penambahan kuota di Arab Saudi hingga efisiensi pengelolaan dana.
“Presiden Prabowo berkomitmen agar kenaikan biaya global tidak membebani jamaah. Kami sedang mengkaji wacana-wacana solutif agar antrean haji tidak lagi menyentuh angka 40-an tahun, namun tetap menjaga kesehatan keuangan haji agar tidak ambruk di masa depan,” ujarnya.
Dahnil juga menyoroti persoalan panjangnya antrean haji di Indonesia yang saat ini bisa mencapai puluhan tahun. Ia menjelaskan pemerintah tengah mengkaji berbagai skema untuk memperpendek antrean, termasuk opsi reformasi sistem pengelolaan keuangan haji.
Ia juga menyoroti pentingnya budaya bersih dan tertib sebagai bagian dari pembangunan karakter bangsa. Menurutnya hal ini menjadi perhatian serius pemerintah dalam mewujudkan Indonesia yang lebih maju dan berdaya saing.
Sementara itu, Wakil Ketua Ponpes Wali Barokah, Agung Riyanto menyampaikan apresiasinya terhadap materi pembekalan yang dinilai sangat relevan. Menurutnya enyampaian materi tantangan pengelolaan haji ke depan menjadi bahan penting bagi pesantren dalam ikut memberikan edukasi kepada masyarakat.
“Kami di Ponpes Wali Barokah sangat mengapresiasi transparansi yang disampaikan Bapak Wamen Haji. Masalah antrean haji adalah keresahan kolektif umat. Kami memandang bahwa pesantren memiliki peran penting untuk memberikan pemahaman kepada warga dan jamaah mengenai kondisi riil di lapangan,” jelasnya.
Ia menyampaikan dukungan terhadap upaya pemerintah dalam menyelamatkan dana haji agar tetap berkelanjutan. Hal ini penting agar generasi muda santri kita di masa depan masih memiliki kepastian untuk berangkat ke Tanah Suci dengan tata kelola yang lebih adil dan profesional.
“Kami melihat wacana-wacana yang disampaikan masih memerlukan pendalaman, terutama agar kebijakan yang diambil nantinya benar-benar berpihak pada umat. Ponpes siap mendukung dan memberikan masukan konstruktif,” jelas Sekretaris Ponpes Wali Barokah, Daud Soleh.
Ia menyoroti pentingnya kedisiplinan dan budaya bersih yang menjadi ciri khas warga pesantren dan Lembaga Pendidikan di lingkungan LDII sebagai modal sosial dalam penyelenggaraan haji yang tertib.
“Pak Wamen tadi menyebutkan pentingnya tradisi bersih dan disiplin mengantre sebagai agenda nasional. Di Ponpes Wali Barokah, nilai-nilai kedisiplinan dan kebersihan sudah menjadi karakter harian santri. Kami siap menyinergikan budaya pesantren ini untuk mendukung kualitas pelayanan haji Indonesia,” jelasnya.
Daud menjelaskan terkait wacana solusi antrean, akan ikut mengawal diskusi ini agar melahirkan kebijakan yang maslahat bagi seluruh calon jamaah, terutama dalam membentengi umat dari ketidakpastian informasi.
“Ponpes Wali Barokah berharap hasil Munas X LDII dapat melahirkan keputusan strategis yang tidak hanya memperkuat dakwah, tetapi juga memberikan kontribusi nyata bagi penyelesaian persoalan umat, khususnya dalam hal pelayanan haji dan pembangunan karakter bangsa,” ungkapnya.
Ia menerangkan melalui Munas X ini, Ponpes Wali Barokah berkomitmen untuk terus menjadi wadah komunikasi yang efektif antara pemerintah dan masyarakat.
“Pesantren menyadari bahwa dua visi utama Kementerian Haji saat ini, yakni menyelamatkan keuangan haji dan memastikan pelayanan yang lebih bagus, memerlukan dukungan penuh dari lembaga pendidikan Islam agar program-program tersebut dapat dipahami dan diterima dengan baik oleh masyarakat luas,” ungkapnya.
Ia berharap sinergi tersebut mampu membawa haji Indonesia menuju masa depan yang lebih pasti, transparan, dan berkeadilan bagi seluruh lapisan umat.









