Jakarta (16/4). Pondok Pesantren (Ponpes) Wali Barokah Kota Kediri menegaskan perannya dalam menjaga aset budaya dan sejarah peradaban Islam di Indonesia. Hal ini selaras dengan pembekalan yang disampaikan oleh Menteri Kebudayaan RI, Fadli Zon, bertajuk “Kebudayaan sebagai Soft Power Indonesia dalam Membangun Perdamaian Dunia”, dalam ajang Munas X LDII di Jakarta, pada Kamis (9/4).
“Temuan arkeologis penting mengenai masuknya Islam ke Nusantara yang jauh lebih awal, yakni pada abad ke-7 masehi. Kebudayaan, termasuk pencak silat dan tradisi pesantren, merupakan soft power yang mampu menempatkan Indonesia sebagai episentrum peradaban dunia,” jelas Menteri Kebudayaan RI, Fadli Zon.
Ia menjelaskan Indonesia adalah bangsa Mega Diversity yang memiliki kekayaan budaya tak benda yang luar biasa. Menurutnya budaya bukan hanya warisan masa lalu, tapi kekuatan pendorong (driving force) untuk masa depan.
“Kami mengapresiasi peran organisasi keagamaan seperti Lembaga Dakwah Islam Indonesia dalam menjaga nilai-nilai budaya sekaligus membangun karakter bangsa. Ia juga menegaskan bahwa kebudayaan bukan hanya warisan masa lalu, melainkan fondasi untuk membentuk masa depan Indonesia,” jelasnya.
Menbud RI menjelaskan kebudayaan adalah soft power yang mampu memperkuat posisi Indonesia di dunia internasional. Menurutnya dengan kekayaan 1.300 lebih suku dan ratusan bahasa, Indonesia memiliki potensi besar menjadi pusat peradaban dunia.
Ia juga menjelaskan bahwa pemerintah terus mendorong penguatan ekosistem budaya, mulai dari perlindungan warisan budaya, pengembangan seni, hingga diplomasi budaya di tingkat global. Langkah ini diharapkan mampu menjadikan budaya sebagai engine of growth sekaligus perekat persatuan bangsa.
Sementara itu, Wakil Ketua Ponpes Wali Barokah, Agung Riyanto mengatakan bahwa pesantren merupakan institusi yang paling konsisten dalam merawat tradisi dan nilai-nilai luhur bangsa yang diintegrasikan dengan ajaran Islam.
“Kami di Ponpes Wali Barokah sangat mengapresiasi komitmen Kementerian Kebudayaan. Bagi kami, pesantren adalah penjaga gawang kebudayaan nusantara. Nilai-nilai rukun, kompak, dan kerja sama yang kami tanamkan kepada santri adalah bagian dari jati diri bangsa yang disebut Menteri Fadli Zon sebagai kekayaan nasional. Kami berkomitmen untuk terus merawat warisan ini, agar santri tidak hanya unggul dalam ilmu agama, tetapi juga bangga akan identitas budayanya sebagai bangsa Indonesia,” ungkapnya.
Ia menyampaikan bahwa pesan yang disampaikan Menteri Kebudayaan sangat relevan dengan peran pesantren dalam membangun peradaban. Menurutnya, kebudayaan dan dakwah tidak bisa dipisahkan. Nilai-nilai luhur budaya Indonesia seperti gotong royong, toleransi, dan akhlak mulia adalah bagian dari dakwah yang menyejukkan dan mampu menjadi kekuatan perdamaian dunia.
Selain itu, Sekretaris Ponpes Wali Barokah, Daud Soleh menekankan pentingnya sejarah masuknya Islam sejak abad ke-7 sebagai motivasi bagi para santri untuk terus berkontribusi dalam perdamaian dunia melalui dakwah yang santun.
“Penjelasan Pak Menteri mengenai bukti arkeologis Islam di abad ke-7 memperkuat narasi bahwa Islam dan Nusantara memiliki ikatan sejarah yang sangat panjang dan harmonis. Di Ponpes Wali Barokah, kebudayaan seperti pencak silat telah menjadi bagian dari pendidikan karakter santri. Kami ingin dunia melihat bahwa Islam di Indonesia adalah Islam yang berbudaya, toleran, dan damai. Inilah soft power nyata yang lahir dari rahim pesantren untuk dunia,” tegasnya.
Ia menambahkan bahwa pesantren memiliki tanggung jawab besar dalam menjaga sekaligus mengembangkan budaya bangsa. Ia menjelaskan Ponpes Wali Barokah siap berkontribusi dalam memperkuat literasi budaya kepada generasi muda, agar mereka tidak hanya memahami agama, tetapi juga memiliki jati diri kebangsaan yang kuat di tengah arus globalisasi.
“Melalui pembekalan ini, diharapkan para peserta Munas X LDII mampu menjadikan kebudayaan sebagai bagian integral dalam dakwah dan kehidupan bermasyarakat, sekaligus memperkuat peran Indonesia sebagai bangsa yang berkontribusi dalam menciptakan perdamaian dunia,” lanjutnya.
Daud menjelaskan, nantinya budaya 29 karakter luhur para alumni pesantren dan warga LDII juga diangkat oleh Kementerian Kebudayaan sebagai salah satu budaya unggulan Islam Nusantara.
“Di tengah serbuan budaya asing, kalau ditanya mana budaya timur, 29 karakter luhur inilah yang bisa diangkat. Perlu sosialisasi yang masif, termasuk diantaranya melalui pembuatan film edukatif sebagaimana Jumbo. Kami sangat berharap Kemenbud berkenan membuatnya, dan dijadikan koleksi digital di platform media dan museum,” tutupnya.









