Bandar Lampung (15/5). Kepala Bidang Ketahanan Ekonomi, Sosial, Budaya, Agama dan Ormas, Bakesbangpol Lampung, M Jauhari mengajak ormas berperan aktif menjaga kondusivitas daerah. Hal itu ia katakan saat menjadi narasumber “Silaturahim Kebangsaan LDII Lampung”, di GSG LDII Lampung, pada Kamis (14/5/2026).
“Ormas dapat menjadi wadah penyaluran aspirasi masyarakat, sekaligus media pelayanan sosial untuk mendukung pembangunan. Namun, jika tidak dikelola dengan baik, dinamika ormas juga berpotensi menimbulkan konflik sosial, seperti intimidasi, provokasi, adu domba dan pemerasan,” ujar M Jauhari.
Untuk itu, ia mengungkapkan, pihaknya terus melaksanakan pembinaan ormas agar tetap berjalan sesuai dengan aturan, serta mampu menjaga persatuan bangsa. “Maka diperlukan pendaftaran, pembinaan, pengawasan, hingga menjadi regulator terhadap ormas,” ujar M Jauhari.
Lebih lanjut, Jauhari mengingatkan ormas dilarang melakukan tindak kekerasan, mengganggu ketertiban umum, dan bermusuh-musuhan. “Maka kami melaksanakan pembinaan ormas, melalui penguatan ideologi Pancasila, pelibatan tokoh agama dan tokoh masyarakat, serta sosialisasi budaya persatuan,” pungkasnya.
Jauhari juga mengungkapkan, pihaknya melaksanakan pemberdayaan ormas dengan tujuan meningkatkan kemampuan, daya tahan dan kemandirian organisasi dalam kehidupan bermasyarakat, berbangsa dan bernegara. “Sehingga, dapat menjaga kerukunan di tengah masyarakat, untuk mewujudkan suasana yang aman, damai dan harmonis,” tegasnya.
Sementara itu, Kepala Bidang Penerangan Agama Islam dan Pemberdayaan Zakat dan Wakaf, Kanwil Kemenag Lampung, Makmur mengungkapkan, bangsa Indonesia adalah bangsa yang majemuk. “Memiliki keberagaman agama, suku, dan budaya yang harus dijaga bersama,” tuturnya.
Menurutnya, keberagaman adalah kekuatan bangsa, sekaligus menjadi tantangan jika tidak disikapi dengan bijak. “Kami melaksanakan program moderasi beragama. Sebagai cara pandang, sikap, dan praktik beragama sebagai kunci untuk memperkuat persatuan bangsa dan menjaga kerukunan di tengah masyarakat,” imbuh Makmur.
Makmur menjelaskan, empat indikator utama moderasi beragama yaitu komitmen kebangsaan, tolerasi, anti kekerasan dan penerimaan terhadap tradisi lokal. “Nilai-nilai ini harus terus diperkuat, untuk menghadapi berbagai tantangan. Di antaranya disrupsi informasi, polarisasi, ujaran kebencian, hingga hoaks berbasis sentimen keagamaan,” tutupnya.











